1001Budidaya.com

aneka ragam budidaya tanaman dan hewan

Proses Pembenihan Udang Windu


Salah satu komoditas ekspor hasil perikanan di Indonesia yang memiliki nilai ekonomis cukup tinggi yaitu udang windu. Oleh karenanya budidaya udang windu cukup ramai dilakukan di beberapa wilayah di Indonesia. Apakah Anda juga tertarik untuk mencoba? Jika iya, berikut adalah beberapa langkah atau proses pembenihan udang windu yang dapat kita pelajari bersama. Pembenihan udang windu biasanya dilakukan di kakaban ataupun kolam-kolam yang berukuran besar maupun kecil.

Memilih Induk Udang Windu

Langkah pertama yang harus kita perhatikan yaitu memilih induk udang windu. Udang windu yang baik untuk dijadikan indukan memiliki beberapa kriteria. Untuk induk betina diantara kriterianya yaitu memiliki berat di atas seratus gram dan memiliki kandungan telur yang bagus. Sedangkan untuk induk jantan diantara kriterianya yaitu memiliki berat diatas delapan puluh gram, tidak terlalu agresif, dan bagian kaki kedua tidak kebesaran. Selain itu, baik induk jantan maupun induk betina harus memiliki tubuh yang sempurna (tidak cacat), kemudian badannya juga bebas dari parasit.

Proses Perawatan Induk

Kolam pemeliharaan untuk induk harus disediakan secara khusus. Hal ini dimaksudkan untuk mendukung kesiapan induk dalam proses pematangan telur. Perawatan induk dilakukan dengan pemberian pakan yang berupa ikan-ikan kecil, udang-udang kecil, kerang, cacahan kepiting, kerang, cacing, dan lain-lain yang kaya akan kolesterol sehingga dapat membantu mempercepat pematangan reproduksi induk.

Proses Pemijahan Udang Windu

Indukan yang telah matang kelamin biasanya berusia sekitar satu setengah tahun. Setelah didapati indukan-indukan yang siap memijah, maka langkah berikutnya yaitu memindahkan indukan-indukan tersebut ke dalam kolampemijahan yang telah dikondisikan sesuai dengan habitat alami mereka ketika akan memijah. Kondisi yang sesuai dengan habitat mereka ketika hendak memijah yaitu kondisi airnya harus tenang dan jernih.

Perlu diketahui juga bahwa perkawinan induk  udang windu biasanya terjadi pada malam hari. Di habitat alamnya, perkawinan masal biasanya terjadi pada saat bulan purnama. Proses perkawinan udang windu terjadi dengan cara induk jantan memasukan alat kelamin jantan dan menyuntikan spermatozoa ke dalam alat kelamin betina. Setelah kontak tersebut, induk udang windu betina akan mengeluarkan telur yang akan melayang di air kolam.

Proses Penetasan Telur Udang Windu

Setelah proses pemijahan selesai dan semua induk bertelur, maka kita angkat induk-induk betina dan jantan dan kita masukan kembali ke kolam induk. Selanjutnya telur-telur di kolam tersebut juga kita angkat dan kita pindahkan ke bak penetasan. Setelah telur menetas dan larva-larva bermunculan, larva tersebut akan mengalami setidaknya empat tahapan perkembangan selama kita rawat hingga menjadi bibit udang windu yang telah siap untuk dipanen dan dibesarkan ataupun dijual.

Tahapan yang pertama yaitu menjadi nauplius, dimana larva tersebut akan berganti kulit sebanyak enam kali dan proses ini memerlukan waktu sekitar 50 jam. Ketika telah menjadi nauplius, larva kita pindahkan ke dalam kolam atau bak pemeliharaan larva dengan intensitas sekitar 60 larva per liter air. Selanjutnya larva tersebut akan memasuki tahapan yang berikutnya, yaitu menjadi Zoea selama kurang lebih 100 jam. Selanjutnya larva akan menjadi mysis selama 100 jam hingga memasuki tahapan yang terakhir, yakni post larva.

Pakan untuk Larva Udang Windu

Selama menjadi larva, udang windu memerlukan cadangan makanan untuk membantu kelangsungan hidup mereka. Pakan yang diberikan untuk larva udang windu bisa berupa pakan alami dan pakan buatan. Beberapa macam pakan yang bisa digunakan yaitu skeletonema costatum dan artemia sp. Setelah larva membesar menjadi bibit udang, kita bisa memanen hasilnya dan melakukan penyortiran untuk mendapatkan bibit-bibit yang berkualitas.

Send to Kindle
More from Budidaya
Back to Top