Macam-macam Tanah

Tanah merupakan bagian paling atas dari lapisan permukaan bumi sebagai media tumbuhnya tanaman. Tanah terbentuk dari hasil pelapukan batuan yang banyak mengandung bahan organik dan anorganik. Pembagian macam-macam tanah yang dilakukan oleh para ilmuwan ada berbagai macam.

Berikut ini macam-macam tanah berdasarkan USDA (United States Department of Agriculture).

Macam-macam Tanah Berdasarkan USDA

Entisols

Tanah terbentuk dari sedimen vulkanik serta batuan kapur dan metamorf. Contoh jenis tanah ini adalah tanah aluvial, regosol, dan litosol. Di Indonesia, tanah Entisols kebanyakan dapat ditemukan di Papua, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, dan Nusa Tenggara Timur.

  • Tanah Aluvial. Tanah aluvial terbentuk akibat proses pengendapan bahan-bahan yang dibawa oleh aliran sungai. Bahan-bahan itu diendapkan ketika arus sungai melambat di wilayah yang datar. Sifat tanah ini sangat subur dan peka terhadap erosi. Tanah ini banyak ditemukan di hampir seluruh wilayah Indonesia, terutama di sepanjang daerah aliran sungai.
  • Tanah Regosol. Tanah ini terbentuk akibat pelapukan batuan yang mengandung abu vulkanik, pasir pantai, dan napal. Umumnya, tanah jenis ini terdapat di wilayah dengan ketinggian 0-2.000 m di atas permukaan laut. Tanah ini memiliki sifat rentan terhadap erosi dan memiliki produktivitas rendah sampai tinggi. Tanah jenis ini digunakan untuk persawahan, perkebunan, dan penanaman palawija.
  • Tanah Litosol. Tanah litosol terbentuk dari pelapukan batuan yang belum sempurna sehingga sulit ditanami. Oleh karena itu, sebagian besar tanah ini tidak dapat digunakan. Akan tetapi, ada bagian yang masih dapat digunakna untuk penanaman tanaman keras, tegalan, dan palawija.

Histosols

Tanah ini terbentuk dari pembusukan jaringan tanaman sehingga mengandung banyak bahan organik. Histosils dikenal juga dengan gambut. Contoh jenis tanah ini adalah tanah organosols. Di Indonesia, tanah Histosols kebanyakan dapat ditemukan di Riau, Papua, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan Sumatera Selatan.

Inceptisols

Tanah ini merupakan tanah mineral yang masih muda. Contoh jenis tanah ini adalah tanah Latosol, aluvial, brown forest, solonsak, dan humic gley. Di Indonesia, tanah Inceptisols kebanyakan dapat ditemukan di Papua, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, dan Maluku.

  • Tanah Latosol. Tanah Latosol terbentuk akibat pelapukan bahan induk batuan tufa vulkanik. Pada umumnya, tanah jenis ini terbentuk di wilayah beriklim basah dengan curah hujan antara 2.000 – 7.000 mm per tahun. Tanah ini memiliki sifat tahan terhadap erosi dan memiliki produktivitas sedang hingga tinggi. Tanah jenis ini banyak digunakan untuk persawahan, penanaman palawija, dan perkebunan. Penyebaran tanah ini mencakup Jawa, Bali, Sumatera, Kalimantan, Maluku, dan Papua.

Verticols

Jenis tanah ini merupakan tanah mineral dengan warna abu kehitaman, mengandung lempung 30%, terdapat di daerah beriklim kering dan memiliki batuan induk kaya akan kation. Di Indonesia, tanah verticols kebanyakan dapat ditemukan di Nusa Tenggara timur, Nusa Tenggara Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan.

Oxisols

Tanah ini mengalami proses pencucian/peluruhan sehingga kandungan zat hara (nutrien) sedikit sementara kandungan aluminium dan besi tinggi. Jenis tanah ini biasanya berusia tua dan kebanyakan dapat ditemukan di Sumatera Selatan, Papua, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, jambi, dan Lampung.

Andisols

Jenis tanah ini berwarna gelap yang terbentuk dari endapan vulkanik. Jenis tanah ini banyak ditemukan di dataran sekiar gunung api. Di Indonesia tanah ini dapat ditemukan di Sumatera Utara, Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Maluku.

Mollisols

Jenis tanah ini merupakan tanah mineral yang serupa dengan tanah praire, terbentuk dari bantuan kapur. Tanah kaya akan bahan organik dan senyawa basa serta memiliki pH netral. Di Indonesia, tanah mollisols kebanyakan dapat ditemukan di Papua, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, dan Jawa Timur.

Ultisols

Jenis tanah ini berwarna kuning-merah yang telah mengalami pencucian/peluruhan. Tanah ini disebut juga tanah podsolik dan banyak terdapat di daerah lahan kering. Di Indonesia, tanah utisols kebanyakan dapat ditemukan di Kalimantan Timur, Papua, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Riau.

  • Tanah podsolik merah kuning. Tanah ini merupakan tanah yang berasal dari hasil pelapukan batuan tufa vulkanik, endapat vulkanik, batu pasir, dan pasir kuarsa yang bersifat asam. Biasanya, tanah ini terbentuk di wilayah dengan curah hujan tinggi (2.500-3.000 mm per tahun). Tanah ini bersifat peka terhadap erosi dan memiliki produktivitas rendah sampai sedang. Oleh karena itu, tanah banyak digunakan untuk persawahan, perladangan, kebun karet, kopi, dan kelapa sawit. Tanah jenis ini banyak ditemui di Wilayah Jawa Barat, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Papua.

Untuk persebaran tanah di Indonesia, berikut contoh dari macam-macam tanah yang dikenal di Indonesia.

Macam-macam Tanah yang Dikenal di Indonesia

Ada 22 macam tanah yang dimiliki oleh Indonesia. Akan tetapi, tidak semua tanah tersebut termasuk tanah yang subur. Macam-macam tanah yang dikenal di Indonesia antara lain tanah podsolik merah kuning, latosol, aluvial, mediteran, andosol, podsol, regosol, grumosol, rensina, litosol, hidromorf kelabu, planosol, glei humus, dan tanah gambut.

Tanah Mediteran

Tanah mediteran terbentuk akibat pelapukan bahan induk batuan kapur, batuan sedimen, dan batuan tufa vulkanik. Tanah ini terbentuk di wilayah yang memiliki curah hujan 800-2.500 mm per tahun. Biasanya, tanah jenis ini terdapat pada ketinggian sekitar 0-400 m di atas permukaan laut. Tanah ini memiliki sifat yang rentan terhadap erosi dan memiliki produktivitas rendah hingga sedang. Di Indonesia, luas keseluruhan tanah ini kurang lebih tujuh juta hektar.

Tanah Andosol

Tanah andosol terbentuk akibat pelapukan batuan induk tufa dan abu vulkanik. Selain itu, tanah jenis ini terbentuk di wilayah yang memiliki curah hujan antara 2.500-2.700 mm per tahun. Sifat tanah ini adalah peka terhadap erosi dan memiliki produktivitas sedang hingga tinggi. Tanah ini banyak digunakan untuk penanaman sayuran, kopi, buah-buahan, teh, kina, dan pinus.

Tanah Podsol

Tanah podsol terbentuk akibat pelapukan batuan tufa vulkanik dan pasir kuarsa. Tanah ini bersifat peka terhadap erosi dan memiliki produktivitas rendah. Biasanya, tanah jenis ini ditemukan di wilayah dengan ketinggian 0-2.000 m di atas permukaan laut. Di Indonesia, luas keseluruhan tanah ini kurang lebih lima juta hektar. Biasanya, tanah jenis ini digunakan untuk perladangan dan perkebunan lada.

Tanah Grumosol

Tanah jenis ini terbentuk akibat pelapukan batuan naval, tanah liat, dan tufa vulkanik. Biasanya, tanah ini ditemukan di wilaya yang memiliki ketinggian 0-200 m di atas permukaan laut. Sifatnya peka terhadap erosi dan memiliki produktivitas rendah hingga sedang. Penggunaannya untuk palawija, tegalan, tebu, kapas, hutan jati.

Tanah Rensina

Tanah jenis ini terbentuk dari hasil pelapukan batuan kapur. Biasanya, lapisan yang dimiliki tanah ini sangat tipis. Oleh karena itu, tanah sangat peka terhadap erosi dan memiliki produktivitas relatif rendah. Biasanya, tanah jenis ini digunakan untuk tegalan, padang rumput, dan hutan jati.

Tanah Hidromorf Kelabu

Tanah ini terbentuk akibat pelapukan batuan tufa vulkanik asam dan batu pasir. Biasanya, tanah jenis ini terdapat di wilayah yang memiliki curah hujan lebih dari 2000 mm per tahun. Sifat dari tanah ini adalah peka terhadap erosi dan memiliki produktivitas rendah sampai sedang. Jenis tanah ini digunakan untuk persawahan dan palawija. Di samping itu, tanah ini juga digunakan untuk bahan pembuatan batu bata dan genting.

Tanah Planosol

Tanah planosol terbentuk dari pelapukan batuan endapan di dataran rendah yang banyak mengandung bahan aluvial. Tanah planosol banyak ditemui di wilayah yang memiliki ketinggian 0-50 m di atas permukaan laut dan yang memiliki curah hujan kurang dari 2.000 mm pertahun. Sifa dari tanah ini adalah kepekaan yang sangat tinggi terhadap erosi. Selain itu, produktivitasnya pun rendah. Biasanya, tanah ini digunakan untuk persawahan tadah hujan, dan tegalan.

Tanah Glei Humus

Tanah jenis ini terbentuk dari hasil endapan bahan aluvial di wilayah yang memiliki curah hujan lebih dari 1.500 mm pertahun. Tanah ini jenuh dengan kandungan air dan memiliki produktivitas rendah. Sebagian besar tanah ini tersebar di daaran rendah yang berawa-rawa. Biasanya, tanah ini digunakan untuk persawahan pasang surut dan persawahan rawa.

Tanah Organol

Tanah organol terbentuk dari bahan induk yang mengandung bahan organik dari hutan gambut dan tanaman rawa. Biasanya, tanah ini terbentuk di wilayah yang memiliki curah hujan lebih dari 5.000 mm per tahun. Selain itu, produktivitas tanah ini adalah rendah.

 

Sumber:

Y. Sri Pujiastuti, T.D. Haryo Tamtomo, N. Suparno. 2007. IPS Terpadu untuk SMP dan MTs Kelas VIII Semester 1. Yogyakarta: Esis

Tia Mutiara, Ernawati, Mieke Miarsyah, Dewi Luvfiati. 2008. Ilmu Pengetahuan Alam untuk SMK dan MAK Kelas X. Yogyakarta: Esis