Kegiatan Penanganan Pasca Panen Pada Tanaman Benih Kedelai

Kegiatan Penanganan Pasca Panen Pada Tanaman Benih Kedelai terutama pada Tanaman Benih Kedelai varietas Baluran, Anjasmoro dan Wilis akan mempengaruhi kualitas benih kedelai. 

Penanganan pasca panen benih merupakan suatu kegiatan untuk penanganan benih sejak benih telah selesai dipanen sampai siap disalurkan kepada penggunanya baik sesama produsen (penangkar) maupun petani. Penanganan pasca panen bnih kedelai meliputi kegiatan perontokan, pengeringan, pembersihan, pemilahan, perawatan, pngambilan contoh pengujian, pengemasan dan pelabelan.

Sebelum membahas pokok masalah ada baiknya terlebih dahulu melihat faktor faktor yang mempengaruhi mutu benih, kwalitas/ mutu benih baik mutu genetik, fisik maupun fisiologis sangat dipengaruhi oleh (a) Keadaan pertanaman induk lapangan; (b) Panen; (c) Pengolahan /Processing; dan (d) Penyimpanan.

  1. Keadaan Pertanaman Induk Lapangan

Sebagaimana gambaran komponen kegiatan produksi benih, bahwa keadaan pertanaman induk dilapangan sangat besar pengaruhnya terhadap mutu benih yang akan dihasilkan. Keadaan pertanaman dilapangan dipengaruhi oleh Agroklimat, iklim pengelolaan/perawatan.

Mutu benih tanaman pangan yang dihasilkan pada musim penghujan akan lebih rendah mutunya dari pada benih yang dihasilkan pada musim kemarau. Demikian juga benih yang berasal dari tanaman induk dngan vigor yang tinggi, akan lebih baik/ tahan simpan dibandingkan dengan yang berasal dari tanaman yang vigornya rendah. Komposisi kimia benih, fosfat memegang peranan penting dalam benih, karena merupakan cadangan energi yang disimpan dalam biji, sehingga usaha pemupukan berimbang sangat dianjurkan untuk memproduksi benih tanaman pangan.

Pengamatan tanaman induk dilapangan terutama untuk mengetahui keseragaman pertumbuhan, type simpang (off type) campuran varietas lain, tanaman yang sakit oleh pathogen/ virus harus suspektif mungkin dilakukan, karena faktor faktor tersebut bila muncul dilapangan akan mempengaruhi mutu benih yang akan dihasilkan.

  1. Panen

Saat panen sangat besar pengaruhnya terhadap kwalitas benih yang dihasilkan. Panen yang baik apabila dilakukan pada saat matang fisiologis. Karena pada saat masak fisiologis benih mempunyai viabilitas, daya tumbuh, vigor, ukuran dan berat kering benih maksimal. Benih yang berasal dari benih yang dipanen pada saat masak fisiologis akan memiliki pertumbuhan yang kuat.

Sebaliknya benih yang berasal dari benih yang dipanen sebelum mencapi masak fisiologis akan memiliki pertumbuhan yang lemah, karena berat keringnya biji rendah, ukuran biji kecil secara fisiologis biji belum masak, jaringan-jaringan penunjang belum berkembang dengan baik.. Penundan panen yang terlalu lama dilapangan pada kadaan cuaca jelek setelah benih mencapai masak fisiologis akan menyebabkan biji mengalami deterioration (kerusakan) lebih cepat. Demikian juga tidak dianjurkan pemanenan pada keadaan cuaca jelek karena kadar air benih terlalu tinggi sehingga akan menyulitkan proses selanjutnya dan akan berakibat menurunnya viabilitas benih.

Cara panen yang salah akan mengakibatkan kerusakan mekanis benih, cara panen yang baik ditujukan untuk menekan kerusakan mekanis benih akibat benturan/ gesekan dengan alat panen. Cara panen dengan manual lebih baik dibanding dengan cara mekanik, namun panenan secara manual akan memerlukan waktu yang lama. Waktu panen yang tepat karena terlalu prosentase kehilangan hasil oleh mesin perontok dan pmbersih cukup tinggi dari panen terlambat kehilangan oleh deraan iklim cukup tinggi, langkah ini sebagai upaya memperkecil kehilangan hasil pada periode panen dan begitu pula pengaruh pada mutu benih itu sendiri.

Berkaitan dengan penentuan vigor benih pada momen masak fisiologis yang ditengarahi oleh berat kering maksimum dan vigor maksimum, tolak ukur kecepatan tumbuh pada benih jagung dan kedelai yang dipanen dalam variasi umur dari 76 hari sampai 111 hari. Untuk jagung dari 101 hari kedelai menunjukan pada kenaikan kecepatan tumbuh yang dapat diaplikasikan untuk perkiraan kapan tercapainya masak fisiologis.

  • Panen hendaknya dilakukan pada saat mutu benih mencapai maksimal, yang ditandai sekitar 95% polong telah berwarna coklat atau kehitaman (warna polong masak) dan sebagian besar daun pada tanaman sudah rontok,
  • Panen dilakukan dengan cara memotong pangkal batang,
  • Brangkasan kedelai hasil panen langsung dikeringkan (dihamparkan) di bawah sinar matahari dengan ketebalan sekitar 25 cm selama 2-3 hari (tergantung cuaca), menggunakan alas terpal plastik, tikar atau anyaman bambu. Pengeringan dilakukan hingga kadar air benih mencapai sekitar 14 %,
  • Jangan menumpuk brangkasan basah lebih dari 2 hari sebab akan menjadikan benih berjamur dan mutunya rendah,
  • Mengingat sulitnya pengeringan brangkasan/polong pada musim hujan (karena kurangnya sinar matahari), maka brangkasan/polong perlu diangin-anginkan secara dihampar (tidak ditumpuk). Untuk mempercepat disarankan setelah perontokan bnih segera dikeringkan hingga kadar air mencapai 10 % baru kemudian disortasi.
  1. Perontokan Benih

Perontokan benih dilakukan jika benih masih melekat pada malai, polong atau buah setelah panen. Tanpa perontokan, penyimpanan benih bersama malai, polong, atau buah agak memerlukan tempat lebih luas. Secara tradisional perontokan benih dapat berupa pengupasan, penumbukan, pembenturan atau penginjakan diatas lantai jemur atau tempat lainya. Secara mekanis sederhana, perontokan dapat dilakukan dengan bantuan alat yang digerakan oleh manusia atau hewan. Mekanisasi penuh memungkinkan perontokan dengan tenaga listrik. Alat perontok mekanis dapat berada pada kombain dan dikondisikan,

Yang perlu diperhatikan dalam perontokan disamping kebersihan alat, tidak kalah pentingnya memperhatikan kadar air dan kecepatan putar mesin (rpm), Kadar air tinggi perputaran tinggi kerusakan bagian dalam benih/ memar cukup tinggi, kadar air rendah rpm tinggi bagian luar bahkan prosentase benih pecah cukup tinggi, idealnya perontokan dilakukan pada kaar air optimum 14 % – 16 % dengan rpm dibawah 500 rpm

  1. Pengeringan Benih

Pengeringan benih biasanya dilakukan setelah perontokan dan sebelum pembersihan. Pengeringan benih dengan alami panas sinar matahari atau dengan menggunakan elemen listrik maupun dengan menggunakan minyak tanah sebagai pengganti sinar matahari. Pengeringan calon benih harus segera dilakukan pada saat itu juga, bila tidak memungkinkan agar diangin-anginkan.

Sepanjang keadaan memungkinkan lebih baik menggunakan lantai jemur ,untuk menghemat biaya dan lebih mudah penanganannya. Pengeringan dengan menggunakan alat harus dilakukan pencatatan penurunan  rata-rata kadar airnya (drying rase) lama pengeringan dan pemakaian bahan bakarnya. Apabila terjadi kelainan misalnya terlalu lama mesin perlu segera diperiksa. Penurunan kadar air rata-rata 0,5 – 1,2 % per jam, tinggi temperature udara panas untuk pengeringan padi dan jagung 43 C dan kacang-kacangan (kedelai) maksimum 37 C. Jangan menumpuk atau mengumpulkan benih dalam karung/wadah tertutup apabila benih masih dalam kondisi panas (langsung setelah pengeringan) melainkan benih perlu diangin-anginkan sekitar 1/2 jam (tidak terkena sinar matahari) untuk meyeimbangkan suhu benih dengan suhu sekitarnya.

  1. Pembersihan dan Sortasi

Calon benih setelah dikeringkan, langkah selanjutnya adalah membersihkanya. Pembersihan bertujuan yaitu untuk membuang benih spesies lain yang berbeda dari spesies yang diproduksi dan bahan bahan pengotor serta untuk memilih benih supaya mendapatkan benih yang telah dipilih, karena benih-benih yang kecil, berwarna tidak normal dan tidak sehat telah dikeluarkan. Pembersihan benih tidak dapat dilaksanakan dengan sembarangan karena masing-masing kelompok benih memiliki masalah yang harus dianalisis dan dipecahkan  menggunakan perangkat mesin dengan cara yang benar. Operator alat pmbersih dapat berpengaruh besar standar hasil pembersihan dari pada alat itu sendiri.

Pembersihan benih dalam jumlah sedikit lebih baik dibersihkan dengan penampian dan pengayakan manual sedangkan dalam jumlah yang banyak atau perusahaan prinsip ini dimodifikasikan dalam mesin yang dikontruksi untuk meniup udara melalui benih yang jatuh didalam ruangan terbatas atau menghisap udara dari suatu ruangan yang memungkinkan benih benih jatuh melaluinya atau disebut aspirator. Kedua sistem ini  memungkinkan bahan yang berat dan ringan terbuang dari benih proses pembersihan berikutnya mencangkup penempatan bnih diatas ayakan (sieve) atau saringan yang kemudian digoyang.

  1. Penyimpanan

Calon benih yang telah dibersihkan diangkut ke gudang penyimpann dengan jumlah sesuai kelompoknya. Khusus penyimpanan calon benih bersih kedelai dan jagung kemasan dengan double inner bag (dua lapis) dengan harapan untuk menekan terjadinya kontak antara fluktuasi dan kelembapan dengan benih. Benih dikelompokan dan diberi nomor lot benih dan maksimum 20 ton dalam 1 lot benih yang disusun dan ditumpuk diatas palet (alas kayu) untuk menghindari kontak langsung dengan lantai dan hal ini akan merugikan terutama terhadap daya simpan.

Benih yang disimpan dalam silo supaya dicek temperature secara teratur, bila temperature benih diatas 5 C temperature udara luar segera dilakukan segera lakukan aerasi. Setiap tumpukan benih/ lot benih diberi kartu identitas memuat data data antara lain : nomor lot, varietas, tanggal panen, jumlah, tanggal pengujian, tanggal kadaluarsa, tanggal penyemprotan/fumigasi. Keadaan tempat penyimpanan harus selalu bersih dan sanitasi dilakukan secara teratur dengan cara penyemprotan pestisida.

  1. Pengendalian Hama Gudang

Pengendalian hama serangga Rhyzoppenta Dominica, Tribolium Castaneum, Sitophilius Orize, dan lain-lain). Ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam pengendalian hama serangga di gudang yaitu :

  • Pencegahan (preventif) adalah dengan jalan sanitasi/ membersihkan gudang lantai mesin-mesin dan peralatan yang digunakan serta mengeluarkan barang yang tidak dipakai sebagai sarang hama;
  • Fumigasi 3 hari 3 malam dengan phostoxin dosis 3-5 tablet per ton nya. Fumigasi dilakukan segera setelah pembersihan dan sortasi diulang 3 bulan atau melihat kondisi dan keadaan hama;
  • Penyemprotan dengan pestisida interval 3-4 minggu untuk memberantas hama yang ada dipermukaan. Pestisida yang dapat digunakan misalnya Silasan, Satisfars dengan dosis 35-60 cc per liter larutan. Banyaknya penyemprotan 30-50 cc larutan obat per m2

Kegiatan yang secara umum dilaksanakan dalam rangka Penanganan Pasca Panen Benih Kedelai merupakan kegiatan dalam rangka menjaga mutu tanaman benih kedelai agar nantinya benih dapat lulus uji di laboratorium sebagai benih bersertifikat.